Tawa di Tengah Keterbatasan – Dinda Rahmaniar, S.KM

Ini kali ketiga saya mengikuti misi bersama RSKKA. Sebuah panggilan pengabdian yang selalu sulit untuk ditolak. Namun, kali ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, saya terlibat dalam misi tanggap bencana, bukan sekadar kegiatan bakti sosial seperti sebelumnya.

Gempa Flores pada 15 Agustus 2026 menyisakan begitu banyak kesedihan. Bukan hanya luka dan penyakit fisik yang dirasakan oleh sebagian warga, tetapi juga luka yang tidak terlihat—ketakutan, kehilangan, dan kesedihan yang mendalam. Anak-anak pun harus kehilangan rutinitas mereka. Mereka tidak lagi bisa bersekolah seperti biasa. Banyak gedung sekolah yang nyaris tak tersisa setelah ambruk diguncang gempa dahsyat pagi itu.

Relawan RSKKA saat mengisi trauma healing ke anak-anak korban gempa
Relawan RSKKA saat mengisi trauma healing ke anak-anak korban gempa

Sebagai praktisi kesehatan masyarakat, saya berangkat di fase disaster recovery, dengan fokus pertama untuk membantu memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak dan orang tua, terutama perempuan, dalam menghadapi masa traumatis pascagempa. 

Pada minggu pertama setelah bencana, fokus utama tim medis adalah disaster response untuk penanganan trauma fisik. Ketika saya tiba pada minggu kedua, kebutuhan akan pemulihan psikologis mulai menjadi salah satu perhatian. Bersama tim, kami menjalankan berbagai kegiatan trauma healing: mendirikan sekolah darurat bagi anak-anak SD dan SMP, merangkul para ibu di posko pengungsian, mendengarkan cerita tentang beratnya hari-hari setelah gempa, serta mendukung tenaga kesehatan agar tetap memperhatikan kesehatan mental mereka sendiri, bukan hanya kesehatan para pasien dan korban gempa.

Sekolah darurat kami buka di tenda pengungsian SMP Negeri 1 Dampek. Setiap pagi, kami mengadakan kelas untuk kelompok anak-anak yang lebih kecil dan kelompok yang lebih besar, masing-masing selama satu hingga dua jam. Kegiatan diawali dengan olahraga, kemudian dilanjutkan dengan bermain, bernyanyi, dan belajar bersama—mulai dari matematika, bahasa Inggris, hingga menggambar.

Anak-anak juga diajak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui tulisan. Banyak dari mereka yang masih merasa takut untuk kembali ke rumah hingga hari ini. Ketakutan yang mereka rasakan justru terlihat lebih besar daripada yang dirasakan orang dewasa di sekitar mereka. Menulis menjadi salah satu bagian dari perjalanan trauma healing yang sederhana, tetapi cukup bermakna.

Melihat senyum lebar mereka ketika menerima buku dan alat tulis sungguh melegakan. Ada semangat belajar yang begitu tulus, bahkan semangat yang jarang saya temui di tengah kehidupan kota yang serba mudah. Siang hari, kami melanjutkan kegiatan belajar bersama siswa SMP, kemudian sore harinya kembali bermain bersama. Waktu-waktu sederhana yang ternyata selalu mereka nantikan.

Seperti halnya anak-anak, para ibu di posko pengungsian juga masih menyimpan kesedihan yang mendalam akibat gempa. Kami duduk melingkar dan berbagi cerita satu sama lain. Perlahan, mereka mencoba melepaskan sedikit beban yang selama ini dipendam: tentang rumah yang hancur, pekerjaan suami yang hilang, hingga kekhawatiran sederhana tentang apakah mereka akan mendapatkan makanan untuk hari itu.

Tak terasa, air mata mulai menetes. Kami saling berpelukan, saling menenangkan, dan mencoba melepaskan trauma sedikit demi sedikit.

Di sela-sela kegiatan pendampingan psikologis, fokus kedua saya adalah memberikan edukasi promosi kesehatan terkait sanitasi, air bersih, dan kebersihan lingkungan. Bersama anak-anak, kami belajar sambil bermain tentang pentingnya menjaga kebersihan, termasuk pengelolaan sampah dan praktik cuci tangan tujuh langkah menggunakan sabun.

Upaya penyediaan dan penyaringan air bersih juga dilakukan untuk membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap air minum kemasan. Kami turut memperhatikan kondisi drainase di sekitar tenda agar tetap lancar dan bersih, sehingga tidak menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti lalat dan nyamuk yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Edukasi untuk menjaga kebersihan toilet dan dapur umum juga terus dilakukan bersama warga. Tujuannya sederhana: menjaga keamanan pangan dan kesehatan lingkungan, meskipun kondisi di lapangan masih sangat terbatas dan belum memungkinkan untuk menerapkan seluruh standar kebersihan secara ideal.

Namun, dari keterbatasan itu, kami belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Setidaknya, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan terus diupayakan oleh semua pihak, termasuk warga dan relawan RSKKA.

Hampir satu minggu tinggal bersama warga di posko pengungsian membuat saya semakin menyadari bahwa perjalanan pemulihan masih sangat panjang. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, baik dalam memulihkan kesehatan mental masyarakat maupun dalam memperbaiki kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan mereka.

Namun, di tengah semua keterbatasan, saya belajar banyak tentang ketahanan, kepedulian, dan harapan. Tentang bagaimana anak-anak masih bisa tertawa di tengah kehilangan. Tentang bagaimana para ibu tetap berusaha kuat meski masa depan mereka belum pasti. Dan tentang bagaimana kehadiran, mendengarkan, serta melakukan hal-hal kecil bersama-sama terkadang dapat memberikan arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Sebuah pengalaman berharga yang tidak akan pernah saya lupakan. Semoga hal kecil yang tim RSKKA lakukan dapat meringankan sedikit beban warga Dampek di Manggarai Timur, NTT. 

What's your reaction?
0Cool0Upset0Love0Lol

Add Comment

to top