Kebahagiaan dan rasa haru mewarnai misi bakti kesehatan Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga. Di tengah gelombang laut dan keterbatasan akses medis kepulauan, tim dokter spesialis RSKKA berhasil mengoperasi dan menyambut kelahiran bayi laki-laki ke-101 yang lahir secara selamat di atas kapal saat bersandar di Pulau Raas, Kabupaten Sumenep.
Pulau Raas sendiri merupakan pulau kedua yang dikunjungi Bakti RSKKA 2026 dengan tema “Penyakit Katastropik di Kepulauan: Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif dan Bahagia”. Lokasi lain yang dikunjungi adalah Kecamatan Bluto, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu di Kabupaten Sumenep. Misi ini diikuti oleh 31 relawan yang meliputi dokter spesialis, dokter umum, dan tenaga medis lainnya.

Pada kasus kali ini, prosedur operasi Sectio Caesarea dilakukan pada seorang pasien rujukan lokal yang mengalami kondisi kehamilan post-date dan BSC yang berasal dari Pulau Putri (salah satu pulau di sekitar gugusan Pulau Raas). Mengingat tingginya risiko komplikasi kehamilan, pasien idealnya harus dirujuk ke rumah sakit pusat di daratan Sumenep.
“Awalnya kami berencana merujuk pasien ke Sumenep karena ini bukan kasus darurat mendadak di lokasi. Namun, kendala ekonomi yang sangat berat membuat keluarga pasien sama sekali tidak mampu jika harus dirujuk ke daratan darat Sumenep. Jika tidak segera dibantu di kapal, pasien berisiko tinggi terpaksa melahirkan di dukun beranak.” — dr. Alif Firdaus Wafa (Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSKKA)
Menghadapi situasi krusial tersebut, tim dokter spesialis obsgyn, anestesi, dan perawat bedah RSKKA memutuskan untuk mengambil langkah medis terukur dengan melakukan operasi sesar langsung di fasilitas kamar operasi kapal. Prosedur pembedahan berlangsung dengan sangat lancar tanpa komplikasi berarti.
Bayi laki-laki yang dijuluki sebagai “Anak Kapal” tersebut lahir dalam kondisi sehat dan stabil. Kelahiran ini menandai pencapaian ke-101 persalinan yang berhasil ditangani oleh RSKKA sepanjang pelayarannya mengarungi pulau-pulau terluar di Indonesia.
Selalu ada momen haru ketika operasi telah selesai dilaksanakan, bagaimana pasien dimobilisasi dengan diangkat para relawan dari ruang operasi kapal ke daratan menggunakan ambulan untuk dibawa ke puskesmas Raas. Sebuah kejadian yang sangat mudah ditemui di kota besar, tapi di kepulauan, operasi seperti ini sangatlah berharga.




“Alhamdulillah, terima kasih banyak atas pelayanan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. Pelayanannya sangat bagus, baik, dan sempurna. Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan HCML dan Konsulat Jenderal Australia.” — Ahmad Rasidin, Orang Tua Bayi (Warga Pulau Putri, Raas)
Keberhasilan misi medis di Pulau Raas ini merupakan wujud nyata kolaborasi multisektoral antara Yayasan Ksatria Medika Airlangga, Universitas Airlangga, serta didukung penuh oleh para mitra strategis seperti Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan Pemerintah Australia melalui Konsulat Jenderal Australia. Juga didukung oleh Kemenkes RI, IDI, BPJS Kesehatan, OneMed, RSUD Dr. Soetomo, Aperindo, Pelindo, dan Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Kehadiran RSKKA di kawasan kepulauan Madura membuktikan bahwa keadilan akses pelayanan kesehatan dan tindakan medis spesialistik dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, bahkan hingga di pelosok kepulauan.